SUMENEP – Angka stunting di Sumenep masih tinggi. Kondisi tersebut mendapat perhatian dari kementrian Kominfo dan Good News From Indonesia serta didukung taberita.com untuk menggelar #kopdarbaik mengenai 1.000 hari terbaik.

Kegiatan tersebut berupa seminar dan dialog yang bertujuan menjelaslan pentingnya menjaga asupan anak dari usia 0 sampai 1.000 hari. “1000 hari terbaik diambil menjadi tagline adalah bagian terpenting untuk mengatasi persoalan stunting.

Hal sederhana, namun sering kurang diperhatikan,” ucap Founder Good News From Indonesia, Akhyari Hananto.
Pria yang akrab disapa itu menjelaskan, ada 10 daerah yang memiliki prevalensi stunting yang masih tinggi di Jawa Timur (di atas angka rata-rata nasional).

Dengan tiga daerah teratas adalah Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Sumenep, dan Kabupaten Probolinggo.
Menurutnya, penyebab stunting bisa sangat kompleks. Mulai dari pola asuh, pola konsumsi, pola umur awal perkawinan, dan pola hidup sehat secara umum.

“Inilah yang menyebabkan promosi, edukasi, dan ajakan untuk bersama-sama hidup sehat menjadi sangat urgent untuk terus di lakukan, terutama di daerah-daerah yang menunjukkan prevalensi tinggi dalam hal stunting,” katanya.
Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Baca Juga :

Di tempat yang sama, ketua TP PKK Sumenep Nurfitriana Busyro Karim mengakui jika Sumenep masuk diurutan ke-7 masalah stunting di Jawa Timur.“Kami telah mencari solusi bagaimana menekan angka kematian ibu dan anak. Selanjutnya, bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka. Kita sudah melakukan hal itu,” katanya.

Selain mengundang Nurfitriana Busyro Kariem, GNFI juga menghadirkan pembicara lainnya. Yakni, Kasubdit Informasi dan Komunikasi Kesehatan Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP), Kominfo, Maroli Jeni.

Selain itu hadir pula seorang ahli gizi dari Universitas Airlangga Surabaya Prof. DR. dr. Merryana Ardiani. KopdarBaik ini semakin seru dengan hadirnya mantan penyanyi cilik Enno Lerian sebagai Influencer.Enno dipilih selain karena fublik figur dia juga aktif di Social Media. (FE)

Berikan Komentar
0/5 (0 Reviews)
No more articles