Opini

Gus Dur dan Madura

Img 20181210 Wa0002
IMG 20181210 WA0002

*Oleh: Faisol Ramdhoni

Dikisahkan, suatu hari Gus Dur pernah bertanya kepada AS.Hikam mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) era Pemerintahan Gus Dur.

Sudah pernah dengar cerita Menristek dikalahkan oleh orang Madura? tanya Gus Dur.

Gimana, Gus? tanya AS Hikam sambil senyum-senyum.

Menristek sebelum sampeyan itu luar biasa hebat, karena konon bisa bikin pesawat. Suatu hari, dia ingin pamer kepada orang Madura, betapa hebatnya capaian dia dan bagaimana rakyat seharusnya bangga dan memujanya. Nah, tibalah dia di sebuah Pesantren di Bangkalan.

Pak Menteri yang satu ini punya kebiasaan, kalau pidato pasti menggebu-gebu, hingga matanya pun melotot-lotot. Pak Menteri antara lain mengatakan: Jadi sudara-sudara, kiai-kiai, kita harus bangga! Karena bangsa kita telah punya warga yang mampu membuat pesawat terbang. Sebentar lagi, bukan cuma pesawat terbang biasa, malah pesawat yang bisa mendarat ke bulan. Apakah sudara-sudara tidak bangga dengan prestasi anak bangsa sendiri?

Anehnya, hadirin diam saja. Pak Menteri heran dan bertanya lagi: Apakah sudara-sudara bangga?

Masih juga hadirin diam, bahkan setelah Pak menteri mengulangi tiga kali pertanya seperti itu. Akhirnya, seorang santri berbadan kurus angkat tangan sambil bicara: Kalau saya, tak bangga sama sekali Pak Menteri!

Si Menteri terjejut! Ia bertanya: Kenapa kok tidak bangga, dik?

Kata si santri: Soalnya sudah ada yang bisa begitu, Pak. Saya akan bangga kalau Bapak bisa bikin pesawat yang bisa ke Matahari (mata para hadirin terarah kepada Pak Menteri, menunggu reaksinya).

Ooo begitu. Apakah adik tahu, bahwa mendarat ke Matahari itu tidak mungkin? kata Pak Menteri.

Lho, kenapa tidak mungkin, Pak? tanya Si santri, heran.

Begini, matahari itu panasnya berjuta-juta derajat celcius, sehingga tidak ada logam yang bisa dipakai untuk membuat pesawat yang bisa mendekat, apalagi mendarat. Baru mendekat sekian juta kilometer saja, pesawat itu pasti sudah meleleh. Pak Menteri yang cerdas itu lalu menjelaskan kepada para hadirin soal kesulitan menciptakan pesawat disertai paparan ilmiah ilmu fisika.

Kalau cuma begitu, gampang Pak! Belum selesai Pak menteri bicara, si santri menyela.

Lho, mudah gimana? Pak Menteri lagi-lagi kaget.

Kalau takut pesawatnya meleleh karena panas, berangkatnya habis Maghrib saja. Kan sudah dingin! jawab si santri, santai.

Humor Gus Dur itu salah satu dari sekian banyak humor yang pernah dibuatnya dengan menjadikan orang Madura sebagai obyeknya. Bagi Gus Dur, orang Madura itu cerdik dan banyak akal. Keluguan orang Madura memang sering menjadi anekdot cerdas yang membuat orang terpingkal-pingkal

Gus Dur berpendapat, orang Madura memiliki kecerdasan yang tinggi dan kemampuan mengantisipasi serta merespon krisis dengan cepat. Stereotype orang Madura adalah pemberani, keras, tegas, protektif terhadap keluarga dan harga diri, tetapi juga sangat sentimentil dalam urusan agama. Orang Madura juga sangat mencintai kampung halamannya. Itulah sebabnya, Gus Dur selalu mengagumi hal-hal yang berkaitan dengan Madura, termasuk dalam masalah humor. Gus Dur mengaku sering kulakan Humor Madura dari Orang Madura sendiri!

Sedangkan, bagi orang –orang Madura sendiri, Gus Dur adalah sosok yang tidak tergantikan dalam hal memahami, mengayomi, memberikan pengertian mendalam bagi karakter dan kultur masyarakat Madura ke dunia luar. Sebab itu, ketika Gus Dur hendak dilengserkan dari kursi Presiden RI, masyarakat yang menyatakan berani mati ialah orang-orang Madura. Bahkan, mereka ‘mengultimatum’ ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Mengetahui hal itu, Gus Dur sendiri yang langsung memberikan pemahaman kepada orang-orang Madura agar tetap tenang menyikapi situasi tersebut. Setelah mereka berhasil menenangkan diri, Gus Dur masuk pada persoalan pembentukan negara baru. Gus Dur memberikan uraian kepada orang-orang Madura bahwa ongkos pembentukan negara baru sangat mahal. Apalagi orang-orang Madura bakal bersusah payah harus membuat paspor untuk bepergian.

Penjelasan sederhana dari Gus Dur tersebut langsung bisa diterima oleh orang-orang Madura sehingga mereka mengurungkan niat kuatnya ingin memisahkan diri dari Indonesia. Inayah Wahid (putri Gus Dur) menjelaskan bahwa ke-ngeyelan-an dan kepolosan orang-orang Madura dan jawaban-jawaban nyeleneh mereka adalah karakter kuat masyarakat Madura dan muncul dari bentuk ketulusan dan kejujuran masyarakat Madura.

Hal itu dijelaskan oleh Inayah Wahid dalam kata sambutannya di buku anggitan Sujiwo Tejo berjudul Kelakar Madura buat Gus Dur. Buku ini berisi cerita-cerita pendek (tetapi bukan cerpen) yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat Madura yang dilekatkan dengan sosok Gus Dur. Ini menunjukkan, buku ini berupaya menggambarkan bahwa kelakar, Gus Dur, dan orang Madura merupakan satu kesatuan unsur membentuk kehidupan yang renyah dengan tawa.

Apalagi secara genetika, Gus Dur dikenal sebagai keturunan Jaka Tingkir yang masih punya darah Madura. Suku Madura juga dikenal ber “Agama” NU. Dimana, K.H Hasyim Asyari kakek Gus Dur merupakan salah satu pendirinya. Bahkan dalam sejarah berdirinya NU, peranan Syaichona Kholil seorang Ulama Besar Madura cukup besar. Sebab beliau adalah Guru dari K.H Hasyim Asyari sekaligus pemberi tongkat agar NU segera ditegakkan.

Dus, sosok Gus Dur tidak mungkin dilepaskan dari orang Madura. Bahkan kecintaannya pada orang Madura, pernah ditunjukkannya dengan mengangkat Mahfud MD sebagai Menteri Pertahanan. Saat mendapatkan banyak mendapat ragam protes, Gus Dur menjawab dengan enteng “ Karena Pak Mahfud MD itu Orang Madura!”.

Saat menjabat sebagai Presiden, tahun 2001, Gus Dur meresmikan Universitas Bangkalan Madura menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Hal ini dilakukannya guna mewujudkan keinginan masyarakat Madura untuk memiliki kampus negeri. Perubahan status ini pun diikuti juga dengan perubahan nama. Dijadikanlah nama Pangeran Trunojoyo seorang pejuang kebanggaan Madura ini menjadi nama universitas. Hingga saat ini, orang-orang kemudian mengenalnya dengan sebutan Universitas Trunojoyo Madura.

Teruntuk Gus Dur, Lahumul Fatihah!

*Penulis : Ketua Lakpesdam NU Sampang

Exit mobile version