Pijar

Muharram Bulan Istimewa

Whatsapp-Image-2018-09-10-At-11.38.29-Pm-1
WhatsApp-Image-2018-09-10-at-11.38.29-PM-1

Bulan Muharrom termasuk salah satu Asyhurul Hurum, yaitu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Seperti kita ketahui, dalam sejarah Islam banyak peristiwa-peristiwa besar yang dapat kita jadikan simbol kemenangan Islam di panggung peradaban dunia. Seperti ditenggelamkannya Fir’aun, kelahiran Nabiyullah Isa alaihis salam, kelahiran Nabi Ibrahim alaihis salam serta terselamatkannya dari kobaran api Namrud, terangkatnya Nabi Idris alaihis salam, dan banyak lagi peristiwa-peristiwa agung yang terjadi di Bulan Muharrom. Bahkan dalam tataran ibadah secara khusus Nabi SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah Bulan Ramadhan adalah puasa pada Bulan Muharrom”.

Ada satu kisah yang patut kita jadikan pedoman dasar betapa Bulan Muharrom mendapat tempat istimewa di hati Rosulullah SAW. Ketika Nabi SAW memasuki kota Madinah, beliau menyaksikan umat Yahudi tengah berpuasa. Lalu beliau bertanya: “Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab: “Kami berpuasa untuk menghormati dan memperingati kemenagan Nabi Musa melawan Fir’aun”. Mendengar jawaban itu Nabi SAW berkata: “Kami, kaum muslim lebih berhak menghormati Nabi Musa dari pada kaum Yahudi!”. Maka semenjak saat itu Nabi SAW berpuasa dan memerintahkan umatnya agar mengikuti beliau menjalankan puasa sunah Muharrom.

Muharrom sebagai bentuk awal bulan pergantian tahun dalam Islam, maka selayaknya kita, umat Islam mengadakan muhasabah (introspeksi diri) atau koreksi terhadap seluruh amal yang pernah kita lakukan. Bentuk kita merayakan tahun  baru Islam  tidaklah kita  isi  dengan  berpesta-pesta  atau euphoria seperti menyalakan kembang api atau meniup terompet, seperti perayaan-perayaan umat lain. Namun, hendaknya kita isi dengan acara-acara yang menambah kedekatan kita kepada Allah SWT, semisal istighotsah, berdo’a, berdzikir, atau juga menyantuni anak yatim dan fakir miskin yang ada di sekitar kita. Sebab, perjuangan Rasul saat hijrah adalah perjuangan yang patut kita tiru, karena Rasul SAW adalah al insanul kamil (manusia sempurna) tidaklah mewariskan gegap gempita dan kemewahan kepada umatnya, melainkan perjuangan yang berdarah-darah demi menegakkan panji kebenaran, yaitu izzul islam wal muslimin. Dan Nabi SAW mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan sebagai benteng dasar keislaman kita secara individual.

1439 tahun yang lalu peristiwa bersejarah itu terjadi. Hijrah junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW dari Makkah ke tanah Yastrib atau kota Madinah yang kita kenal saat ini merupakan awal tonggak sejarah Islam yang mengagumkan. Dari peristiwa itu muncullah mata-rantai sejarah keemasan Islam dan umatnya. Termasuk pula lahirnya kalender Islam, kalender Hijriyah; yang dipelopori oleh Sahabat Umar ibnu al Khatthab (radliyallahu anhu). Beliau sangat menginginkan umat Islam memiliki titik tolak historis (awal sejarah) yang berkarakter khusus yang berbeda dengan umat lain.

Pijar

Di negara-negara yang menggunakan hukum positif, advokasi (pembelaan)…

Pijar

Netralitas politik Bhindara tidak identik dengan sikap tak peduli dengan…

Exit mobile version