Pijar

Politik Bhindara

Politik-Bhindara
POLITIK-BHINDARA

Tetapi mengapa masih aktif juga di dunia politik, bukankah dengan begitu Bhindara juga tidak bebas dari kepentingan?

“Ya benar?”, jawab Bhindara dengan kalem sambil berenung.Kami memang tidak bebas dari kepentingan, namun kepentingan kami berbeda dengan kepentingan partai. Kepentingan kami satu-satunya adalah menyebar rahmah lil ‘alamien. Dalam sepanjang sejarah kemanusiaan, tidak ada yang bisa melakukan demikian tanpa ajaran dari Islam. Keyakinan Bhindara, pluralitas agama, sifat egaliter, toleransi, demokrasi dan etika  politik lainnya yang tertuang dalam sistem nation state semuanya akan bisa mencapai tujuan mulyanya hanya kalau ada dalam bingkai ajaran Islam. Sudah berapa banyak pikiran-pikiran spekulatif dari yang berwujud idea, konsep, teori hingga isme tertentu dicobakan, ternyata  di awal-awalnya melahirkan chaos, di tengah-tengahnya melajukan dehumanisasi dan di ujung-ujungnya menimbulkan penyesalan.”

Atas dasar itu maka dalam pemilihan 2004 ini Bhindaranyumbang pikir untuk pembaca Warkat, dalam pemilihan calon anggota legislatif, silahkan masing-masing kita mengikuti suara partai yang diyakininya, tetapi dalam pemilihan presiden,  baik pada tahap pertama, atau pun bila terjadi tahap kedua, hendaknya memilih berdasarkan perhitungan kepentingan “Islam”.  Kepada teman-teman sebangsa yang berlainan agama, Bhindara sarankan, saudara tidak perlu ragu, yakinlah di bawah payung ajaran dan etika politik Islam, saudara lebih baik, dibanding berada di bawah payung konsep-konsep, idea-idea, teori-teori dan isme-isme lainnya. Islam di Indonesia belum menjadi “payung” baru mayoritas, anda yang minoritas sudah menikmati syurganya Republik. Lihat dan perhatikan nasib minoritas di kebanyakan negara! Masih tidak yakin? Silahkan pelajari Islam!

Sejak menjelang kemerdekaan Republik, telah muncul perbedaan tentang bagaimana Islam diperjuangkan. Perbedaan itu melahirkan dua kelompok: formalis dan esensialis.  Yang pertama berjuang dengan menggunakan simbol-simbol ke-Islam-an, seperti partai Islam, negara Islam, hukum Islam dan lainnya yang serba Islam. Sedangkan yang kedua tidak menggunakan simbol-simbol Islam, tetapi bermuatan etika politik Islam. Ketika Hatta, wakil presiden pertama ditanya oleh sekelompok insinyur muda yang muslim mengapa beliau tidak berjuang untuk Islam, beliau menjawab, “Sama dengan air minum di depan kita ini. Bila diberi sedikit gincu, warnanya akan berubah merah, tetapi rasanya tetap. Tetapi bila ditambah sedikit garam, warnanya tidak berubah, tetapi rasanya langsung berubah. Saya suka garam itu, dan teman-teman ada yang lebih suka gincu”.

Nampaknya, perbedaan antara esensialis dan formalis itu hingga kini tetap mewarnai perpolitikan ummat Islam di Indonesia. Ada sekelompok partai dengan tegas menjadikan Islam sebagai dasarnya seperti PBB dan PKS, dan ada pula sekelompok partai yang didirikan oleh tokoh muslim tidak mau menggunakan dasar Islam, seperti PAN dan PKB. Lalu bagaimana dengan  Bhindara?  Bagi tradisi hidup BhindaraIslam itu harus diyakini di dalam hati, dinyatakan dengan lisan, diamalkan dengan perilaku dan dipersaksikan di hadapan publik. Maka tak ada kamus perbedaan antara fromalis dan esensialis dalam diri Bhindara, keduanya satu hal, yaitu ibadah kepada Allah. Bagi Bhindara, politik itu bagian dari ibadah yang juga dipersembahkan hanya semata demi, oleh dan untuk Allah. Bentuk (form)  dan isinya (essence) harus sama, serasi, harmoni, dan saling terkait secara esensial maupun fungsional.

Oleh: Syarqawi Dhofir

Exit mobile version