tutup
ght="300">
BeritaBudaya

Pembubaran Tradisi Musik Daul Oleh Ormas LRI di Sampang Berpotensi Munculkan Konflik Baru

×

Pembubaran Tradisi Musik Daul Oleh Ormas LRI di Sampang Berpotensi Munculkan Konflik Baru

Sebarkan artikel ini
Aparat Keamanan Bersama Ormas Lri Saat Berada Di Sekitar Monumen Trunojoyo.
Aparat keamanan bersama Ormas LRI saat berada di sekitar Monumen Trunojoyo.

SAMPANG – Cekcok yang terjadi saat Sahur On The Road dengan melibatkan kelompok musik Daul di Sampang dengan beberapa kelompok yang mengatasnamakan Ormas Laskar Relawan Indonesia (LRI) yang diduga bersama aparat diduga akan menimbulkan konflik berkepanjangan.

Diketahui, kesenian musik Daul sudah lama bahkan puluhan tahun merupakan tradisi yang asal muasalnya digunakan sebagai membangunkan warga saat hendak sahur.

Namun sangat disayangkan saat puluhan kelompok musik daul justru dipaksa dibubarkan saat tampil berkeliling jalan protokol di Sampang, Sabtu (30/3/2024).

Ormas yang mengatasnamakan LRI tersebut tampak berpakaian putih dan ada pula yang berpakaian layaknya sakera dengan pendampingan dari aparat keamanan.

Mereka, meminta kelompok musik daul yang tampil untuk putar haluan dan tidak melanjutkan tetabuhan yang dianggap meresahkan sebagian masyarakat.

Habib Abdurrahman selaku koordinator LRI mengaku bahwa pihaknya melakukan monitoring terhadap kelompok Daul yang dilengkapi dengan tarian perempuan tsrsebut berdasarkan Surat Edaran yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sampang.

Ia berdalih bahwa Pemkab telah memberikan himbauan untuk tidak menggelar Daul terlebih di Bulan Ramadan.

Sementara itu, salah satu masyarakat Candra sangat menyayangkan sikap yang dilakukan ormas LRI dengan menggandeng aparat keamanan.

Menurutnya, hal tersebut merupakan suatu kemunduran sebab telah melakukan percobaan degradasi tradisi yang selama ini dilakukan rutin setiap tahun.

“Daul ini sudah ada sejak saya kecil, kenapa Ormas LRI baru bersuara saat ini, seharusnya bisa duduk bersama bukan serta merta hendak membubarkan tradisi yang sudah ada puluhan tahun,” ketusnya.

Baca juga  Kuota Calon Jamaah Haji Kabupaten Sampang 582 Orang

Hal yang sama disampaikan, Ketua Pemuda Peduli Desa (PAPEDA) Badrus Sholeh Ruddin, SH menganggap hiburan berupa Daul itu telah menjadi turun temurun dilakukan oleh sebagian masyarakat di kabupaten Sampang tanpa menghilangkan kewajiban menjalankan ibadah.

“Semestinya kita jaga bersama, saya khawatir hal ini berpotensi menjadi problem baru di level bawah karen terkesan tebang pilih padahal kalau mau di telisik banyak keramaian dan maksiat lainnya tidak hanya daul combo,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyayangkan upaya LRI yang terkesan mendikte pemerintah dalam hal ini Satpol PP, sebab memunculkan konflik baru.

“Ke depan kami harap tidak ada lagi pihak atau siapapun yang merasa ingin menumpas kegaduhan malah ternyata mereka sendiri yang ciptakan itu,” pungkasnya. (red)