Viral RSUD Sampang, Dari Kematian Balita hingga Sidak Bupati

3
Direktur RSUD Sampang dr. Titin Hamidah (Gambar ig @titin.hamidah_dr)

SAMPANG – Gak bisa dipungkiri RSUD Sampang sekarang lagi viral. Terutama sejak Bupati Sampang H. Slamet Junaidi mengintruksikan Direktur RSUD membeli ayam untuk   kipas angin di ruang tunggu pasien.

Di 2019 ini prahara di RSUD Sampang pertama kali viral karena postingan status, foto dan video Ketua Generasi Peduli Negeri (GPN) Pos Jonggol Sampang, Rolis Sanjaya di facebook @Rolis Sanjaya. Panjang juga postingan Rolis di facebooknya itu. Terutama berkaitan dengan kematian balita usia 5 tahun di RSUD Sampang. Keluarga balita itu menduga kematian disebabkan pelayanan RSUD yang kurang maksimal.

Baca dan lihat sendiri postingannya nih:

Kurang Becusnya Pelayanan RSUD Sampang, Akibatnya Pasien Meninggal DuniaRabu (23/1/2019) Yang seharusnya RSUD tempat dimana setiap pasien mendapatkan pelayanan yang baik dan santun. Semua tidak ada pada RSUD Sampang terlalu banyaknya keluhan dari pasien yang kurangnya maksimal pelayanan yang di lakukan oleh pihak RSUD Sampang. Salah satunya warga Desa Pangelen Dusun Baban 1 Kecamatan Sampang.Mahfud orang tua dari pasien yang meninggal sangat kecewa pada pihak RSUD Sampang. Karena ketidak becusan pelayanan yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit.Dalam keterangannya Mahfud menjelaskan, saat itu anak saya berada dalam ruangan cempaka untuk mendapatkan perawatan. Namun kondisi anak saya tidak memungkinkan dan dari perawat memberikan stetmen supaya pindah keruangan I.C.U.“Gini aja pak pindah ke-ruangan ICU, di situ pelayanan dokternya 24 jam,” katanya menirukan apa yang perawat ruang cempaka katakan padanya.Tidak berselang lama dari apa yang dikatakan perawat. Mahfud pun ikuti saran dan pindah ke Ruang ICU, walaupun dengan biaya mahal demi kesembuhan anaknya. Di ruangan ICU saat pasien SF kejang dan keluar busa dari mulut belum ada penangan yang khusus.Makfud sebagai orang tua kebingungan melihat kondisi anaknya yang lagi kritis. Salah satu seorang perawat yang di ruang ICU memberi saran supaya melaporkan ke UGD. Di ruang UGD pun tidak ditanggapi dengan baik oleh perawat.“Saya sampai minta tolong untuk bisa melihat kondisi anak saya di ruangan ICU,l. Karena kondisinya sudah dikwatirkan, tapi pihak rumah sakit hanya mengatakan masih ada pasien. Padahal saat itu tidak menangani pasien,” ungkapnya dengan sedih di kediamannya di hadapan jenasah anaknya yang terbaring kaku.Saya sampai berkali kali untuk bisa melihat atau memanggil dokter yang ada di UGD, namun itu tidak dihiraukan. Karena pada saat itu di ruangan ICU tidak ada dokternya.“Sampai saat anak saya menghembuskan nafas terkhirnya tidak ada dokter yang menanganinya,” imbuhnya.Mendengar hal itu, Seketaris LSM Generasi Peduli Negeri H Dawam Hariri angkat bicara. Saya sesalkan atas pelayanan rumah sakit Sampang. Bukan hanya sekarang, sudah banyak keluhan terhadap pelayanan yang kurang maksimal terhadap pasien.“Bukankah pasal 36 ayat 2 di sebutkan,” Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan, baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien atau meminta uang muka,” kata Dawam dengan kesal.Bahkan kewajiban memberikan pertolongan kepada pasien ini juga berlaku bagi tenaga kesehatan sebagaimana di sebutkan pasal 59 ayat 1 UU no. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga kesehatan.Pimpinan Rumah Sakit atau tenaga kesehatan yang menolak pasien dalam keadaan darurat bisa di pidana dan dikenakan denda sebagaimana di atur dalam Pasal 190 UU Kesehatan.(1) Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat 2 di pidana dengan kurungan penjara paling lama 2 tahun dan denda sebanyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah).(2) Dalam perbuatan sebagaimana di maksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan tersebut dipidana masa kurungan 10 tahun dan denda sebanyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah), jelasnya.Terpisah Rolis Sanjaya juga merasa geram dengan kurangnya maksimal pelayanan rumah sakit sampang. Saya mengecam keras atas pelayanan RSUD sampang, mengakibatkan hilangnya nyawa balita yang saat itu menderita DBD.“Ini pasien umum diperlakukan seperti ini. Apalagi yang menggunakan BPJS. Pada pihak yang berwenang supaya lakukan tindakan sanksi terhadap RSUD yang pelayanannya selama ini tidak becus sehingga akibatkan kematian,” katanya dengan geram.Saat kami konfirmasi terkait adanya pengaduan masyarakat pihak rumah sakit menghalangi dan tidak diperbolehkan masuk. Terkesan ada yang di sembunyikan

Baca Juga :

Posted by Ariesz Fanilla on Wednesday, January 23, 2019

Rolis memposting di facebooknya itu pada 23 Januari 2019. Postingan itu jadi viral banget di Sampang. Karena dikomentari hingga hampir 2.000 orang dan di-share sampai 12.000 kali lebih.

Entah kebetulan gimana, Wakil Bupati Sampang H. Abdullah Hidayat beberapa hari kemudian datang ke RSUD Sampang. Yaitu pada 4 Februari 2019, hari pertamanya kerja sebagai Wakil Bupati. Di samping itu, konon H. Ab (sapaan wakil bupati) pernah punya pengalaman buruk juga terkait pelayanan di RSUD Sampang.

Inspeksi mendadak (sidak) H. Ab viral juga di media sosial, berita dan jejaring sosial WA. Rame-rame nitizen mendukung rencana H. Ab untuk merombak total menejemen RSUD Sampang.

RSUD Sampang makin tambah viral lagi ketika giliran Bupati Sampang H. Slamet Junaidi juga sidak ke sono. Duuh mimpi apa Bu Direktur RSUD Sampang ini yah..

Selain soal menejemen, H. Idi (sapaan Bupati Sampang) juga menyoroti minimnya fasilitas untuk pasien. Saking gemesnya, H. Idi nyuruh Direktur RSUD Sampang beli ayam buat digantung supaya sayapnya jadi kipas angin.

Terkait viralnya RSUD Sampang itu, Rolis Sanjaya yang dihubungi Taberita.com angkat bicara. “Kami  atas nama GPN mengucapkan terima kasih kepada Bupati yang baru, karena telah melakukan sidak ke RSUD Sampang. Tapi harapan kami tolong jangan cuman disidak kalau bisa itu segera ditindak,” kata Rolis.

Rolis melanjutkan, bukan cuman kali ini aja masyarakat mengeluhkan RSUD Sampang, tapi sudah lama sekali. “Makanya menurut kami RSUD Sampang harus segera di rombak total,” ujarnya.

Terkait balita yang meninggal karena diduga pelayanan yang tidak maksimal, Rolis mengaku juga sudah melaporkannya ke pihak berwajib. “Kami tetap percaya bahwa pihak kepolisian akan bertindak profesional dan tegas dalam kasus ini.” (ano)

Berikan Komentar
0/5 (0 Reviews)