Connect with us

Taberita.com

Pacaran? Jangan Banyak Alasan dan Menunda Pernikahan

IMG 20181211 WA0348

Pijar

Pacaran? Jangan Banyak Alasan dan Menunda Pernikahan

Oleh : Muhlis Yazid*

Pernikahan adalah ritual suci untuk menyatukan dua insan dalam satu ikatan suci nan mulia dengan akad pernikahan yang telah ditentukan oleh syari’at Islam. Pernikahan ini selain ditujukan untuk memuliakan dan memanusiakan manusia, juga untuk memelihara kesucian diri dari hal-hal yang dibenci oleh Alloh SWT, seperti; perzinahan, seks bebas, pacaran dan lain sebagainya.

Namun demikian, masih banyak dari anak-anak manusia sepertinya enggan menjadi manusia yang mulia di sisi Alloh SWT. Padahal legalisasi penyaluran syahwat melalui jalur pernikahan secara tegas telah tertulis dalam QS. Surah Ar-Rum: 21.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Banyak alasan seseorang enggan melegalkan hubungan cintanya ke jenjang pernikahan yang suci dan mulia. Diantaranya karena belum siap, belum punya pekerjaan tetap, belum punya penghasilan besar, belum punya rumah, karena inilah, itulah dan lain-lain.

Ironisnya, mereka lebih memilih jalan yang amat hina di sisi Alloh Ta’ala. Hina karena melewati garis pembatas antara ‘halal’ dan ‘haram’. Seharusnya tidak boleh melompat pagar, malah nekad mencari kesempatan untuk melompatinya. Tidak hanya lelaki saja. Perempuan pun juga ada yang menutup mata agar mudah terperosok ke dalam jurang kehinaan.

Sungguh aneh! Saat diberi pilihan dan dianjurkan melalui gerbang pernikahan yang halal, mereka lebih memilih melewati gerbang kemaksiatan yang dipolesi indahnya keharaman. Kenapa ketika dilarang mendekati hal-hal yang diharamkan oleh agama Islam mereka selalu siap tempur? Tapi ketika diperintah dan dianjurkan melaksanakan perintah-Nya mereka enggan dan ciut melaksanakannya? Apakah mereka tidak mau menjadi manusia? Apa bedanya dengan hewan kalau tidak memproses cintanya melalui pernikahan?

Padahal, manusia merupakan makhluk yang derajatnya ditinggikan oleh Alloh SWT dibanding makhluk lainnya. Melalui gerbang pernikahan inilah salah satu cara Alloh SWT memuliakan manusia, hamba-Nya. Hanya karena dengan melalui proses pernikahanlah manusia bisa mendapat legalisasi penyaluran syahwat dengan lawan jenisnya. Bukan dengan cara-cara yang dibenci dan menabrak larangaNya.

Dengan menabrak laranganNya, menyebabkan manusia mengangkangi dirinya sendiri. Bentuk pengangkangan itu dikemas rapi dalam bingkai pacaran, berduan dengan lawan jenis tanpa ditemani muhrimnya dan parahnya sampai mengarah pada seks bebas.

Bukankah membentur aturan Alloh itu merupakan sikap mencederai sifat ‘Iffah dan kehormatan manusia itu sendiri? Jika memang belum mampu untuk menikah kenapa tidak menahan dan menarik diri dari indahnya maksiat?

Padahal dalam syari’at agama Islam melalui Al-Quran, Surah An-Nur ayat 33 ditegaskan, jika tidak mampu menikah, hendaknya menjaga kesucian dirinya. Bukan malah menempuh jalan yang dapat menjerumuskan dirinya ke dalam kobaran api neraka.

“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33).

Sedangkan Nabi Muhammad SAW. menganjurkan kita melaksanakan ibadah puasa jika belum mampu menikah. Karena puasa itu bisa menahan diri dari gejolak syahwat yang memuncak.

“Wahai generasi muda! Barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga, maka hendaknya menikahlah. Karena (menikah) itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang yang belum mampu, maka hendaknya berpuasalah karena puasa itu dapat mengendalikan syahwat.”

Bukan dengan cara menempuh jalan pacaran yang dapat melipat gandakan dosa-dosa kita. Naudzubillah jika harus terjerumus ke dalam jurang perzinahan. Jurang yang akan mengkungkung pelakunya di dunia maupun di akhirat. Rasa nikmat dan kepuasan dari jalan haram ini hanya terasa sesaat. Karena termakan kejamnya nafsu yang beringas.

Kebahagiaan rumah tangga yang diharapkan kian terkikis oleh ketaatannya pada hawa nafsu birahi. Secuil masa depan akan hancur atas perbuatan hinanya. Begitulah risiko yang harus ditanggung karena perbuatannya sendiri.

Jika sudah demikian, jangan salahkan siapa-siapa. Salahkanlah dirimu sendiri. Kenapa saat disuruh memilih perkara halal (pernikahan) enggan menyambutnya. Malah tanpa pikir panjang memilih jalan haram yang bakal meng-azab dirinya. Jelas! Jika sudah tergelincir ke jalan tersebut azab Alloh pasti akan mencabik-cabiknya. Di dunia mau pun di akhirat.

Oleh karenanya, para pembaca yang budiman jangan sekali-kali engkau memproses cintamu atau keluargamu dengan menempuh jalan haram. Selesaikanlah urusan cintamu dengan mengkhitbah akhwat yang engkau sukai yang bakal mengantarkanmu ke gerbang pernikahan. Gerbang yang akan membawamu menuju keluarga yang engkau harapkan.

*Penulis Santri PP. Assirojiyyah Kajuk Sampang

Continue Reading
Baca Juga
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait : Pijar

  • IMG 20181115 WA0000 IMG 20181115 WA0000

    Pijar

    Maulidan dan Bid’ah Hasanah

    By

    Oleh: Muchlis Yazid* Pada bulan Rabiul Awal ini umat Islam menampakkan kebahagiaannya menyambut kelahiran nabi agung...

  • IMG 20181010 WA0015 IMG 20181010 WA0015

    Pijar

    Membangun Kultur Tafakur

    By

    Oleh: Holikin Manusia menjadi berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya lantaran ia memiliki kemampuan berfikir. Ia menjadi...

  • Yoyonk-Ahirullah_edited Yoyonk-Ahirullah_edited

    Pijar

    Memahami Kekurangpahaman dalam Konflik Bendera Hitam

    By

    Oleh: Nara Ahirullah (Yoyonk) Awalnya saya tidak seberapa peduli dengan ramainya persoalan pembakaran bendera hitam bertulis...

  • IMG 20181010 WA0015 IMG 20181010 WA0015

    Pijar

    Belajar Istiqamah pada Kiyai Nawawi Pramian Sreseh

    By

    Dalam memoar yang pernah dikisahkan oleh santri beliau, Kiyai Nawawi (Wafat 2004) adalah seorang kiyai yang...

  • Syarqawi-Dhofir Syarqawi-Dhofir

    Pijar

    Mengakui Kesalahan

    By

    Di negara-negara yang menggunakan hukum positif, advokasi (pembelaan) tumbuh pesat dalam bentuk lembaga. Pada mulanya, advokasi...

  • IMG-20180911-WA0001 IMG-20180911-WA0001

    Pijar

    Ngumbah Keris Ala Kyai Jonggol

    By

    Semenjak masa Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645), tahun hijriah yang diawali...

  • WhatsApp-Image-2018-09-10-at-11.38.29-PM-1 WhatsApp-Image-2018-09-10-at-11.38.29-PM-1

    Pijar

    Muharram Bulan Istimewa

    By

    Bulan Muharrom termasuk salah satu Asyhurul Hurum, yaitu bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Seperti kita...

  • IMG-20180910-WA0014 IMG-20180910-WA0014

    Pijar

    Menjaga Marwah Pemuda

    By

    Tidak diketahui pastinya, berapakah batasan-batasan usia seseorang dapat diidentifikasi sebagai pemuda? Sebagian tokoh ulama hanya memberikan...

  • POLITIK-BHINDARA POLITIK-BHINDARA

    Pijar

    Politik Bhindara

    By

    Netralitas politik Bhindara tidak identik dengan sikap tak peduli dengan urusan politik. Passif pun tidak. Yakin pada kebijakan...

  • 1521522731-image-cont 1521522731-image-cont

    Pijar

    Bagaimana Bekerja Atas Dasar Ilmu Di Dunia Pendidikan ?

    By

    Meskipun kita utamanya bermaksud untuk meneliti realitas, itu tidak berarti kita berikutnya tidak ingin sekali mengembangkannya....

Advertisement

Populer

Advertisement

#hastag Populer

Advertisement

Populer

Advertisement
To Top